CERITA YANG KUBACAKAN

Cerita yang Kubacakan

Ni Nyoman Sri Wahyu Savitri

Nama saya Wahyu, saya siswa kelas 5 Sekolah Dasar di Peguyangan. Sejak kecil, saya suka membaca buku cerita. Setiap pulang sekolah, saya selalu duduk di pojok kamar sambil membaca buku. Buku adalah teman saya. Saya senang membaca, tetapi saya sangat pemalu. Saya sangat takut berbicara di depan teman-teman.

Di kelas, saya jarang mengangkat tangan. Saat guru bertanya, saya sebenarnya tahu jawabannya, tetapi mulut saya terasa terkunci. Teman-teman sering bercerita dengan percaya diri, sedangkan saya hanya menunduk dan diam.

Suatu hari, Ibu guru memberi tugas baru. Kami diminta membaca sebuah cerita, lalu menceritakannya kembali di depan kelas. Mendengar tugas itu, jantung saya berdebar kencang. Saya merasa takut dan ingin menangis. Namun, saya tidak punya pilihan.

Di rumah, saya memilih buku cerita kesukaan saya. Saya membacanya dengan pelan dan penuh perhatian. Setelah itu, saya mencoba menceritakan kembali isi cerita di depan cermin. Awalnya suara saya kecil dan terbata-bata. Tetapi saya harus berlatih setiap hari. Saya ingat pesan ayah, kalau sering mencoba pasti bisa.

Hari yang ditunggu pun tiba. Satu per satu teman-teman saya maju ke depan kelas. Saat nama saya dipanggil, kaki saya gemetar. Saya melangkah ke depan sambil membawa buku. Saya menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita.

Awalnya saya gugup. Namun, saya teringat cerita yang sudah saya baca berkali-kali. Perlahan suara saya menjadi lebih jelas. Saya mulai berani menatap teman-teman. Mereka mendengarkan dengan serius. Beberapa bahkan tersenyum.

Saat saya selesai bercerita, kelas menjadi hening sejenak. Lalu terdengar tepuk tangan. Ibu guru tersenyum dan berkata, “Bagus sekali, Wahyu. Ceritamu sangat jelas dan menarik.” Wajah saya terasa sangat hangat, tapi hati saya sangat senang.

Sejak hari itu, saya menjadi lebih percaya diri. Saya sering membaca dan berlatih.  Kini saya tidak lagi takut berbicara di depan kelas. Membaca dan bercerita telah mengajarkan saya untuk berani. Saya percaya jika kita mau mencoba, kita pasti bisa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait