LIMA BELAS MENIT YANG MENGUBAH HIDUPKU

Lima Belas Menit yang Mengubah Hidupku

Komang Cahya Paramitha

Halo, perkenalkan nama saya Komang Cahya Paramitha. Sejujurnya, saya tidak terlalu suka membaca buku. Menurut saya, membaca itu sangat sangat membosankan. Namun, semua itu mulai berubah ketika guru kelas kami membuat sebuah peraturan baru. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, kami diwajibkan membaca buku, baik buku cerita maupun buku pelajaran selama lima belas menit.

Mendengar peraturan itu, saya merasa sedikit malas. Dalam hati saya berpikir, “Mengapa harus membaca setiap hari? Bukankah saat belajar di kelas kami juga sudah membaca?” Meski begitu saya tetap mengikuti aturan tersebut. Pada hari pertama, saya membawa sebuah buku cerita dengan wajah cemberut. Saya membuka buku itu perlahan, lalu mulai membaca dengan perasaan terpaksa.

Awalnya saya tidak tertarik untuk membaca buku yang saya bawa karena bagi saya itu membosankan, tetapi lama-kelamaan setelah saya membaca buku dengan pelan-pelan ceritanya menjadi seru. Saya membaca buku berjudul “Ayo Bilang Permisi” yang dimana buku tersebut membuat saya memahami pentingnya bersikap sopan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa saya sadari, waktu lima belas menit berlalu begitu cepat.

Keesokan harinya, saya kembali membaca. Kali ini saya sudah ada rasa semangat untuk membaca buku bahkan saya ingin membaca buku yang lain lagi dan tidak malas. Setiap hari saya menemukan cerita baru yang sangat menyenangkan dan mendapatkan ilmu baru melalui kegiatan membaca selama lima belas menit. Ternyata membaca tidak seburuk yang saya pikirkan.

Sekarang, saya menjadi lebih rajin membaca. Selain itu, saya juga lebih mudah memahami pelajaran yang dijelaskan oleh ibu dan bapak guru di kelas. Kebiasaan membaca selama lima belas menit setiap pagi telah membawa perubahan besar dalam diri saya. Saya merasa bangga karena berhasil mengalahkan rasa malas dan menemukan kesenangan baru melalui buku.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait