LIMA BELAS MENIT YANG MENGUBAHKU

LIMA BELAS MENIT YANG MENGUBAHKU

Anak Agung Made Jayendra Dipta

Perkenalkan saya akan menceritakan kisah seorang anak yang bernama Dipta. Setiap pagi Dipta dibangunkan oleh Ibunya. Namun, setiap dibangunkan Dipta selalu ngambek dan mengomel karena masih mengantuk. Hal itu membuat Ibunya terkadang merasa kesal. Dipta berangkat sekolah dengan wajah cemberut dan tubu yang masih lemas. Tasnya sering terasa ringan karena Dipta sering lupa memasukkan buku pelajaran. Saat bel masuk berbunyi, Dipta duduk di bangkunya sambil menguap lebar. Hal itu terjadi karena ia lebih suka bermain game di rumah hingga larut malam dari pada membaca buku atau mengerjakan tugas.

Di kelas VA, Dipta dikenal sebagai anak malas belajar dan mudah menangis. Ketika Buk Guru menjelaskan pelajaran, Dipta lebih suka mengobrol dengan temannya daripada mendengarkan dan memperhatikan. Ia juga kurang fokus lebih sering melamun. Jika diberi pekerjaan rumah (PR), Dipta jarang mengerjakannya karena sering lupa. Nilai pelajarannya pun sering tidak memuaskan.

Suatu hari pada hari Jumat, Bu Guru menyambut kami dengan senyuman. “Anak-anak mulai hari ini kita akan melakukan kegiatan literasi setiap pagi,” kata Bu Guru. Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa diminta membaca buku selama lima belas menit. Buku-buku sudah disiapkan di perpustakaan. Mendengar hal itu, semua siswa bersorak gembira. Namun, Dipta justru merasa kegiatan itu sangat membosankan.

Hari demi hari kegiatan literasi pagi terus dilakukan. Dipta masih merasa bosan. Hingga suatu hari ia tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku. Saat mengambilnya matanya tertuju pada judul buku tersebut, yaitu Aku dan Mimpiku. Awalnya Dipta merasa tidak tertarik, tetapi setelah mulai membacanya Dipta pun merasa tertarik. Cerita itu menceritakan seorang anak yang memiliki cita-cita menjadi seorang polisi, dimana Dipta juga bercita-cita ingin menjadi seorang Polisi.

Sejak saat itu, Dipta mulai berubah. Setiap pagi ia bangun sendiri tanpa dibangunkan oleh ibunya, ia pun selalu mengerjakan PR dan menyimak pelajaran dengan baik. Ia juga mulai pandai mengatur waktu antara belajar dan bermain. Dari yang dulunya mudah menangis, kini ia belajar menjadi anak yang kuat. Ia berusaha tegar meskipun terkadang diejek oleh teman-temannya.

Perubahan Dipta membuat teman-temannya heran. Bu Guru juga melihat perubahan Dipta dan sangat senang. Di rumah Dipta juga terus mengalami perubahan, ia sekarang rajin membantu orang tuanya. Dipta yang dulunya suka melawan orang tua menjadi anak penurut. Orang tuanya pun sangat bahagia dan senang melihat perubahan tingkah laku Dipta.

Beberapa bulan kemudian, nilai Dipta mengalami peningkatan. Ia tidak takut lagi menghadapi ujian dan tugas lainnya. Ia selalu mengerjakan dengan penuh tanggung jawab. Suatu hari saat kegiatan literasi pagi dimulai, ia selalu penuh semangat untuk membuka buku. Ia sadar bahwa lima belas menit membaca membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dari anak yang malas, manjadi siswa yang rajin, bertanggung jawab, dan kuat.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait