MENGOLAH SAMPAH, MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA : SEKOLAH SEBAGAI GARDA TERDEPAN PERUBAHAN
A. Pendahuluan
“Indonesia penyumbang sampah kedua terbesar di dunia” Begitu judul sebuah berita di detik.com . Indonesia menjadi sorotan karena menjadi penyumbang sampah di dunia, dengan sekitar 3,2 juta ton sampah plastik terbuang ke laut setiap tahun, menurut data dari World Bank. Ini menunjukkan adanya masalah serius dalam pengelolaan sampah di negara ini. Permasalahan sampah menjadi masalah penting yang sedang melanda dunia. /
Di Bali, masalah sampah menjadi sangat penting untuk ditangani setelah Fodor’s merilis daftar destinasi wisata yang tak layak dikunjungi tahun 2025, yang salah satunya adalah Bali karena keberadaan sampah yang belum ditangani maksimal. Fodor’s adalah perusahaan penerbitan panduan perjalanan dan informasi pariwisata daring berbahasa Inggris. Dengan demikian permasalahan harus mendapat perhatian serius untuk ditangani jika pemerintah daerah Bali tidak mau hal tersebut berdampak pada pariwisata yang menjadi penyumbang utama perekonomian Bali.
Tentu kita tidak bisa berdiam diri dan membiarkan pemerintah menyelesaikan masalah sampah ini. Dengan kesadaran penuh semua harus berperan serta dalam mengatasi masalah ini. Sebagai pendidik, hal kecil yang dapat dilakukan dimulai dari lingkungan sekolah. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting dalam menanamkan budaya dan karakter kepada peserta didik terkait penanganan sampah di lingkungannya.
Sesuai dengan delapan dimensi lulusan yang termuat dalam Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025 Tentang Standar Kelulusan. Didalamnya memuat delapan dimensi profil lulusan yaitu keimanan & ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kerja sama (kolaborasi), kemandirian, kesehatan dan komunikasi. Jika dikaitkan dengan permasalahan sampah dan penanganannya di sekolah, ke delapan dimensi tersebut dapat dikembangkan dengan kegiatan atau program yang dilakukan di sekolah.
Tujuan dari program ini adalah bagaimana seluruh warga sekolah dapat memberikan kontribusi dalam penanganan sampah yang dikemas dengan berbagai program oleh sekolah dan sekaligus dapat mengembangkan delapan dimensi profil lulusan. Program atau kegiatan dikemas sedemikian rupa secara terstruktur dan konsisten di kalangan siswa, guru jika memungkinkan juga di kalangan orang tua. Jadi ibarat peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.
B. Permasalahan dan Analisis
Seperti kita ketahui jenis sampah secara garis besar adalah sampah organik dan non organik. Sampah organik merupakan sampah yang mudah terurai seperti daun, bunga, dll. Sedangkan non organik adalah sampah yang sulit terurai membutuhkan waktu bertahun tahun seperti plastik, dan olahannya. Sumber sampah di sekolah berasal dari tanaman yang tumbuh di lingkungan sekolah, sampah makanan dari kantin, sampah sisa aktivitas di kelas, sampah makanan yang dibawa dari rumah.
Pada umumnya permasalahan sampah berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat atau guru dan siswa di sekolah. Rizqi Puteri Mahyudin (2014) menuliskan, permasalahan utama sampah adalah permasalahan paradigma, perilaku dan kesadaran. Masalah sampah bukan hanya membuang sampah sembarangan tapi juga kebiasaan negatif diantaranya menggunakan wadah sekali pakai. Seperti contoh siswa yang berbelanja di kantin seringkali membuang sampah kemasan makanan di sela tanaman karena enggan turun dari kelasnya yang di lantai dua atau menaruh di kolong bangku. Begitu juga orang tua yang terkadang karena kesibukan tidak sempat mempersiapkan bekal untuk anaknya dan membeli dengan dibungkus kertas minyak. Guru pun ada yang enggan membawa tumbler dengan alasan air yang diminum dari botol rasanya tidak enak (berbau)
Hal hal tersebut diatas tentu merupakan sebuah kebiasaan buruk yang disebabkan rendahnya kesadaran dari siswa, orang tua maupun guru. Masyarakat kita belum sepenuhnya terbiasa membuang sampah di tempatnya. Masih sering berpikir bahwa masalah sampah urusan petugas kebersihan atau pemerintah. Maka dampaknya adalah kebiasaan buruk yang sulit berubah dari waktu ke waktu diturunkan kepada generasi berikutnya termasuk siswa di sekolah. Kebiasaan buruk ini merupakan karakter yang harus diperbaiki melalui pendidikan di sekolah.
C. Solusi dan Praktik Baik
Sampah yang tidak ditangani dengan baik tentunya akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Karena itu diperlukan solusi, kiat, strategi oleh sekolah dan tindakan nyata untuk penanganan sampah sekaligus meningkatkan karakter siswa dalam delapan dimensi profil lulusan.
Solusi dan praktik baik yang kami sudah dan sedang lakukan di sekolah adalah sebagai berikut .
- Mengeluarkan regulasi dan sosialisasi
Hal pertama yang dilakukan sekolah dalam hal penanganan sampah adalah membuat regulasi berupa Surat Keputusan Tentang Pembentukan Komunitas Adiwiyata dan surat edaran. Surat ini disosialisasikan kepada guru, siswa dan orang tua serta kantin sebagai anggota komunitas sekolah. Hal ini penting agar sekolah memiliki dasar hukum dalam menjalankan program dan kegiatan terkait penanganan sampah dan didukung oleh semua pihak yang terkait. Sosialisasi kepada guru dan siswa diantaranya tertib dalam membuang sampah, rutin mengadakan kebersihan di kelas dan lahan taman yang menjadi tanggung jawabnya, menggunakan tumbler dan kotak makanan untuk bekal. Sedangkan kepada orang tua agar menyiapkan kotak bekal dan tumbler dari rumah untuk putra putrinya.
- Program mengurangi sampah plastik
Solusi masalah sampah sebaiknya bukan hanya mengolah sampah yang ada namun bagaimana mengurangi sampah terutama non organik. Program pengurangan sampah dapat dilakukan dengan cara bekerjasama dengan kantin agar tidak atau mengurangi menjual makanan dengan kemasan dan diganti dengan menjual minuman dengan gelas tidak sekali pakai. Makanan lain dapat disediakan wadah seperti piring atau mangkok tidak sekali pakai. Untuk siswa dan guru jika membawa bekal dari rumah berupa makanan ringan juga harus menggunakan kotak tidak sekali pakai, tumbler dan kotak makan.
- Menyediakan tempat pembuangan dan pemilahan sampah
Sekolah menyediakan tempat sampah agar siswa dapat membuang sampah dengan jelas dan tertib serta konsisten. Sekolah menjadwalkan pembuangan sampah dari kelas ke pembuangan. Sekolah juga membuat program “sapu ranjau” setiap pulang sekolah. Jadi setiap pulang sekolah siswa memungut sampah tak bertuan di jalan yg mereka lalui dan membuangnya ke tempat sampah. Sedangkan tempat pemilahan sampah yang dimaksud adalah tempat sampah organik dan non organik. Tempat sampah organik dapat langsung berupa tebe vertikal. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar (DLHK) memfasilitasi penyediaan tebe vertikal untuk sekolah. Sekolah cukup mengajukan proposal permohonan kepada dinas terkait. Jadi sampah organik cukup dimasukkan ke dalam tebe vertikal sampai penuh dan nantinya beberapa bulan kemudian dapat dipanen menjadi kompos yang dapat digunakan untuk tanaman di sekolah atau dibagikan kepada masyarakat umum. Lalu bagaimana dengan sampah plastik ? Jika ada, sampah plastik akan diolah oleh siswa dan guru.
- Mengolah sampah plastik
Sekolah memiliki Komunitas Adiwiyata yang terdiri dari siswa dan dibina oleh guru pembina. Komunitas ini bertugas menjadi pioner dalam hal pengolahan sampah. Beberapa kegiatan yang dilakukan selain komposter sampah organik di tebe vertikal, juga memanfaatkan sampah plastik. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di hari Sabtu dengan program yang sudah dirancang selama setahun. Pengolahan sampah plastik selama ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
- Membuat pot bunga dari botol plastik bekas.
- Membuat pagar taman dengan botol yang dicat warna warni
- Membuat hiasan/ kerajinan dari sampah plastik seperti vas dan bunga
- Membuat ecobrick yaitu memasukkan sampah kecil ke dalam botol yang kemudian disusun menjadi tempat duduk, dll.
- Bekerjasama dengan pihak ketiga
Kerjasama dilakukan dengan Bank Sampah Sarana Gati yaitu menjual sampah buku, kertas karton, botol, dll. Hasilnya dapat digunakan untuk melengkapi kegiatan adiwiyata. Kerjasama yang kami lakukan juga dengan Yayasan Green Book sebuah organisasi nirlaba yang memfasilitasi sekolah dalam hal pengurangan sampah plastik dengan pembiayaan yang didapat dari minyak jelantah. Minyak jelantah didonasikan oleh orang tua siswa. Dengan demikian sekolah mendapat keuntungan ganda di samping pengurangan sampah juga mendapatkan edukasi selama setahun oleh Yayasan Green Book.
- Kantin sehat, bebas sampah plastik.
Kantin dan sekolah membuat MOU tidak lagi menghasilkan sampah dengan cara menjual makanan tanpa kemasan dan disajikan dengan wadah yang bisa digunakan berulang – ulang . Kantin juga diminta menyediakan makanan sehat untuk para siswa.
- Memilih tema kokurikuler terkait sampah
Dalam panduan kurikulum terbaru disebutkan tentang kokurikuler berdasarkan delapan dimensi profil lulusan dan mengambil tema dari isu di lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Dalam hal ini sampah menjadi isu yang dapat diangkat. Sekolah memilih tema Gaya Hidup Berkelanjutan dengan topik “Mengolah Sampah, Membentuk Karakter: Sekolah Garda Terdepan Perubahan”. Kegiatan kokurikuler dimaksud dapat dikaitkan dengan berbagai program yang telah disebutkan sebelumnya , seperti mengurangi sampah dan mengolah sampah. Pada dimensi keimanan & ketakwaan siswa dihimbau untuk membawa sarana persembahyangan bukan dari plastik melainkan wadah yang bisa dipakai ulang, begitu juga persembahan agar tidak dibungkus plastik tapi dibuka sebelum dihaturkan dan sampahnya dibuang ke tempat sampah. Pada dimensi penalaran kritis siswa diajak mengadakan penelitian sederhana tentang dampak sampah bagi tanah dan makhluk hidup. Pada dimensi kolaborasi siswa bekerjasama dalam menyelesaikan proyek misalnya projek membuat eco enzym atau membuat kompos dll. Dalam dimensi kesehatan siswa diajak melihat dampak dari wadah makanan yg dilarang seperti styrofoam terhadap kesehatan dengan melihat artikel yang terkait. Dalam dimensi komunikasi siswa diajak membuat poster tentang sampah atau menulis tentang sampah. Bahkan jika memungkinkan semua dimensi dalam delapan dimensi profil lulusan dapat dikaitkan dengan pengolahan sampah. Poin penting dalam hal ini adalah bagaimana siswa dapat mengembangkan budaya positif dalam hal mengurangi sampah plastik dan mengolah sampah.
- Melakukan monitoring dan evaluasi berkala
Di setiap kegiatan tentu diperlukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan konsisten . Tujuannya agar memastikan program dilakukan dengan sebaiknya sesuai tujuan dan mengukur sejauh mana program tersebut sudah berdampak.
D. Penutup dan Refleksi
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penanganan sampah dapat dilakukan dari sekolah dan diri sendiri. Sekolah sebagai tempat pendidikan yang mengembangkan budaya dan karakter baik bagi generasi penerus adalah tempat yang sangat tepat dalam mulai membiasakan siswa, guru dan orang tua dalam mengembangkan budaya positif mengurangi sampah plastik, membuat lingkungan bebas sampah plastik, dan mengembangkan karakter siswa.
Dari berbagai kegiatan yang sudah dilakukan di sekolah kami, saya melihat perubahan besar dalam perilaku siswa dan orang tua dengan adanya program sekolah kami. Siswa sebagian besar bahkan hampir semua sudah memakai tumbler dan kotak makan untuk bekal, kantin kami sudah berbenah menuju kantin sehat, guru-guru membiasakan diri menjadi teladan bagi siswa. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari monitoring yang terus menerus dan penekanan-penekanan setiap briefing pagi di halaman. Beberapa hal mungkin masih kurang terutama dalam membuang bekas tangkai permen sembarangan, dan di kolong bangku terkadang masih ditemukan sampah plastik. Hal ini sudah diatasi juga dengan mengadakan lomba kebersihan kelas selama satu tahun ajaran 2025/2026 yang salah satu kriteria penilaiannya adalah kolong bangku bebas sampah. Peran guru disini sangat penting sebagai agen perubahan yang memegang kemudi terhadap keberhasilan program.
Harapan saya setiap sekolah dapat melaksanakan kegiatan dan program yang jelas dan terukur dalam penanganan sampah dengan cara adanya regulasi dari pemerintah Provinsi Bali untuk menghimbau semua sekolah menerapkan program penanganan sampah.
