Petualangan Kereta Api Pertamaku
Reyvano Swaha Tirta
Kertas baru yang berbau harum selalu mengingatkan saya akan buku pertama saya. Dimana huruf-huruf di mata saya masih tampak seperti barisan semut yang membingungkan.
Saat itu saya sudah duduk di bangku TK dan mulai belajar membaca. Saya ingat betul, hari Minggu sore itu Mama menggandeng tangan saya erat menuju sebuah toko buku di pusat kota.
Mama mengajak saya pergi ke toko buku yang besar sekali. Kata Mama, saya boleh memilih satu buku untuk menjadi buku pertamaku.
Di dalam toko buku, disambut bau harum kertas, saya melihat banyak sekali buku yang berwarna-warni. Tiba-tiba, mata saya tertuju pada sebuah buku dengan gambar kereta api berwarna biru cerah di sampulnya. Judulnya adalah “Thomas si Kereta dan Teman-Temannya”.
Saya menunjuk buku itu. Mama tersenyum dan membawanya ke kasir. Saya merasa sangat senang dan bangga membawa kantong belanja berisi buku baru.
Sesampainya di rumah, saya tidak sabar ingin membacanya. Saya duduk di kursi bersama Mama. Kami mulai membuka halaman pertama. Di sana ada gambar sebuah lokomotif biru yang gagah bernama Thomas. Thomas tidak sendirian, dia punya teman-teman yang hebat.
Membaca buku bersama Mama rasanya seru sekali. Setiap hari, saya membuka buku itu. Awalnya saya hanya menghafal gambar, lalu mulai mengenali huruf satu persatu. Perlahan namun pasti, barisan semut yang membingungkan itu mulai berubah menjadi suara di kepala saya. Saya tidak lagi sekadar melihat gambar. Saya mulai bisa membaca!
Buku kereta itu bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan gerbong pertama yang membawaku melintasi dunia literasi. Berkat Thomas dan teman-temannya, saya bisa dan suka membaca. Sejak saat itu, saya tak pernah berhenti membaca.
