SATU BUKU BERJUTA DAMPAK

Satu Buku, Berjuta Dampak

I Made Krisnata Farna

Saat dirumah, saya dan keluarga ingin membeli buku. Kami pun langsung berangkat ke toko buku terdekat. Di sana saya melihat banyak buku. Seperti buku cerita, komik, sejarah, dan masih banyak yang lainnya.

Saat saya sedang melihat-lihat, saya tertarik dengan satu buku yang berjudul Satu Buku, Berjuta Dampak. “Wah sepertinya seru buku ini,” ucap saya. Saya pun mengambil buku tersebut untuk dibawa ke kasir. Keluarga saya juga ikut membeli buku. Ayah memilih buku sejarah, ibu membeli buku cara memasak, dan adik saya membeli buku komik.

Setelah membayar di kasir, kami pun pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah saya langsung membaca buku yang saya beli. Saat membuka halaman demi halaman, saya melihat banyak sekali tokoh yang berperan penting untuk mengendalikan sampah plastik. Rupanya mereka mendapatkan ilmu dari kebiasaan membaca buku. Dari sana saya tahu bahwa buku tersebut bertema tentang dampak membuang sampah plastik secara sembarangan.

Keesokan harinya, saya bersiap-siap pergi ke sekolah dan menjalani kegiatan seperti biasa. Saat bel pulang berbunyi, saya bergegas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah saya melanjutkan membaca buku Satu Buku, Berjuta Dampak. Setelah saya membaca, saya melihat halaman yang menjelaskan tentang bahaya membuang sampah plastik.

Setelah membacanya, saya merasa kaget. Sampah plastik ternyata membutuhkan waktu bertahun tahun untuk terurai. “Wah lama sekali sampah plastik untuk terurai,” ucap saya. Saya pun melanjutkan membaca buku. Ternyata sampah plastik tidak hanya lama terurai, tetapi juga berbahaya bagi ekosistem laut. Seperti penyu salah mengira sampah kantong plastik adalah ubur-ubur. Dalam hati saya berpikir, bayangkan jika kita tidak membuang sampah plastik sembarangan ke laut, berapa banyak ekosistem laut yang terselamatkan.

Setelah lama membaca, saya semakin menyadari bahwa membuang sampah plastik sembarangan juga berbahaya untuk manusia. Misalnya kita membuang sampah plastik di laut, sampah plastik itu pun terurai menjadi mikro plastik yang sangat kecil. Ikan-ikan tidak sengaja memakan mikro plastik tersebut. Kemudian datang nelayan yang menangkap ikan yang mengandung mikro plastik dan dijual ke pasar. Kita pun membeli ikan tersebut untuk dikonsumsi. Artinya secara tidak langsung kita memakan kembali sampah plastik yang kita buang.

Ternyata mikro plastik berbahaya untuk kesehatan manusia. Paparan mikro plastik kepada manusia bersifat jangka panjang karena partikel mikro plastik dapat terakumulasi di organ tubuh manusia seperti hati, ginjal, dan paru-paru serta memiliki efek samping berupa gangguan hormon, peradangan kronis dan iritasi, gangguan sistem saraf, dan masih banyak yang lainnya.

Sejak saat itu, saya mulai mengurangi penggunaan sampah plastik untuk keberlangsungan ekosistem di laut. Saya juga menegur orang yang sengaja membuang sampah plastik ke laut maupun di darat secara sembarangan. Dari buku tersebut saya menyadari satu hal, mungkin kita tidak bisa menghilangkan sampah plastik sepenuhnya di dunia, tetapi kita bisa mulai menguranginya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait