TERSESAT
Ni Nyoman Tri Ayundia Darmayanti
“Kita dimana Di?” tanyaku.
“Entah, aku lupa jalannya Wid,”” kata Adi pelan. Dia terlihat kebingungan.
“Aduh, kamu bagaimana Di, kita tersesat jadinya,” kata Eka hampir
menangis.
Teman lain kebingungan menggerutu tidak jelas.
“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Ira
“Kita duduk dulu yuk, sambil aku mengingat ingat jalan pulang yang dulu
pernah aku lewati sama bapak,” kata Adi. Dia pun duduk di sebuah batu
diikuti oleh empat temannya yang lain. Semua terdiam beberapa saat.
Aku melihat sekeliling. Pohon pohon tinggi dan juga semak semak di
sekitarnya. Tak terlihat jalan setapak yang biasa dilalui orang. Padahal
seharusnya jalannya terlihat. Adi, sang pemimpin diam sambil berpikir. Aku
melihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Tadi kami
naik ke bukit sekitar pukul sembilan, berarti kami sudah di hutan selama dua
jam. Perutku juga sudah mulai keroncongan. Aku membuka tas ranselku dan
mengambil sebuah roti di dalamnya lalu memakannya dengan lahap. Hal itu
diikuti oleh Ira yang juga makan bekalnya.
“Jangan makan banyak, secukupnya saja” tegur Adi. “Kita tidak tahu sampai
kapan disini”
Aku berhenti mengunyah seketika, begitu juga dengan Ira. Kusimpan
setengah potongan roti itu kembali ke dalam ransel. Aku juga minum air
hanya seteguk untuk menghemat. Kulihat Rio membaca kompas.
Sebenarnya aku meragukannya, apakah dia bisa membaca kompas atau
tidak. Tapi biarkan saja.
Kami semua lesu. Tidak tahu harus melakukan apa. Hanya Adi satu satunya
harapan kami. Dia yang paling tua diantara kami, dan aku yang termuda.
Kami berempat masih sepupu sedangkan Eka tetangga kami dan juga
teman sekolah Adi. Adi sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama
kelas dua, sedangkan aku, Ira dan Rio masih kelas enam sekolah dasar.
Kemarin aku pulang kampung bersama ayah dan ibu. Kami pulang ke rumah
orang tua ayahku. Aku sangat senang pulang kampung karena sepupuku
banyak. Ayahku bersaudara empat semua tinggal di kampung. Hanya ayahku
yang merantau ke kota. Kampung kami terletak di kaki gunung. Jadi masih
asri. Udaranya juga sejuk dan di belakang kampung ada sebuah bukit.
Ayahku sering bercerita bahwa pada waktu masih kecil bukit itu adalah
tempat bermain dengan teman temannya. Disana mereka mencari buah
buahan hutan atau umbi umbian. Dari sana sepupuku yang bernama Adi
punya gagasan, untuk berjalan jalan ke bukit tempat ayah kami sering
bermain waktu masih kecil.
Pagi tadi kami meminta ijin kepada ayah kami, dan beliau mengijinkan
mengingat ada jalan setapak yang bisa ditempuh di bukit itu yang biasa
dilalui pencari kayu bakar atau orang orang dari desa lain di atas bukit untuk
turun ke desa kami. Ayah tetap berpesan agar kami berhati hati. Kami
menyiapkan perbekalan sejak kemarin terutama makanan kecil dan roti. Aku
senang. Rasanya seperti akan piknik.
“Jangan lupa bawa air,” kata ibu “Kamu yakin mau ikut naik bukit ?” tanya ibu
untuk yang kesekian kali.
“Yakinlah Bu,” kataku lagi.
“Kalau begitu persiapkan dirimu. Nanti kalau ada pacet jangan menangis,”
kata ibu.
“Aku sudah berani dengan pacet Bu. Jangan khawatir, kan cuma ke bukit”
kataku meyakinkan lagi.
Tepat pukul sembilan pagi, kami berangkat beriringan sambil berbincang
bincang .Awalnya sangat menyenangkan. Kami melewati persawahan lalu
masuk hutan kecil. Pemandangan yang sangat indah dan alami. Namun yang
paling menyenangkan adalah ini petualanganku yang pertama kali,
menyusuri jejak ayah di masa kecil. Tapi entah kenapa tiba tiba kami
kehilangan jalan, keluar dari jalur dan kebingungan karena tidak menemukan
jalan pulang.
“Bagaimana kalau kita kembali ke jalan yang kita lewati tadi?” usul Rio. “Di
kompas terlihat arah utara kesana” sambungnya sambil menunjuk ke satu
arah.
“Ke utara itu kemungkinan ke kampung, karena bukit kita ada di selatan
kampung, begitu maksudmu?” tanya Adi.
“Ya benar, logikaku begitu” jawab Rio.
“Bagaimana yang lain apakah sepakat?” tanya Adi sambil memandangi kami
bertiga, aku, Eka dan Ira.
Aku mengangguk pelan begitu juga Eka dan Ira.
“Baiklah kalau begitu kita berjalan menuju utara” kata Adi. Lalu diapun
bangkit menggendong tas ranselnya dan berjalan ke arah yang dimaksud.
Kami semua mengikuti.
Sebenarnya aku senang dengan pemandangan di sekitarku. Burung burung
terdengar berkicau bersahutan. Udaranya sejuk dan terasa bersih. Beberapa
bunga liar terlihat menghiasi sepanjang jalan. Langit biru bersih terlihat di
antara rimbunan pohon. Dan suara kera yang sesekali terdengar di kejauhan.
Tapi tentu saja hatiku juga cemas. Apakah kami akan menemukan jalan
pulang, apakah aku akan bertemu dengan ayah dan ibu, bagaimana kalau
kami harus bermalam di hutan ? Pikiran itu berkecamuk di kepalaku dan
membuatku hampir menangis karena cemas. Lelahpun lebih cepat datang
dalam kecemasan seperti itu.
Kami sudah berjalan cukup lama menuju ke arah utara tapi belum juga
menemukan jalan setapak yang dituju. Waktu sudah menunjukkan pukul
satu.
“Aaaa.. kakiku terperosok” aku menjerit. Kakiku terperosok masuk lubang
yang cukup dalam. Aku ketakutan dan menjerit jerit. Adi yang berjalan paling
belakang segera menghampiri. Disibaknya semak semak di sekitar kami lalu
terlihat kakiku yang masuk sebuah lobang hingga betis.
“Aku takut ular,” jeritku keras.
“Sabar, aku tarik kakimu, lemes ya” kata Adi. Semua mengerubungi kami.
Dengan perlahan aku menarik kakiku dibantu oleh Adi. Akhirnya aku terlepas
dari lubang itu. Aku merasa lega.
“Coba gerakkan kakimu. Apakah sakit ?”
Aku menggerak gerakkan kakiku, sedikit sakit tapi sepertinya tidak terlalu
masalah. Aku mencoba berdiri dibantu Eka dan Ira lalu berjalan sebentar.
“Tidak apa Di, sakit sedikit tapi aku masih bisa jalan,” kataku.
“Baiklah kita berhenti sejenak, tapi jangan lama lama, kita harus terus
berjalan jangan sampai kita kemalaman di hutan.” kata Adi.
Mendengar itu, Ira mulai menangis ketakutan.
“Aku tidak mau disini, aku mau pulang” isaknya.
“Kita semua mau pulang Ira” jawabku. Aku mencoba menguatkan walaupun
aku sebenarnya ketakutan juga.
“Kita sedang mencari jalan pulang Ira, diamlah. Kamu malah menambah
kebingunganku” kata Adi. Dia mencoba membuka handphonenya kembali.
“Belum ada sinyal” bisiknya. Diantara kami hanya dia dan Rio yang
membawa handphone. Handphone Rio tidak bisa hidup karena baterainya
habis.
“Heiii… apakah kalian mendengar suara memanggil ?” tanya Rio dari arah
depan. Kami semua terdiam. Mencoba mendengarkan. Sepertinya ada suara
memanggil sayup sayup di kejauhan. Aku mendengarkan lagi lebih seksama.
Aku menahan nafas. Bahkan kami terasa mendengar detak jantung kami.
Suara sayup memanggil terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
Widya …Ira… Adi .. kalian mendengar kami ?
“Itu suara ayahku” teriakku.
“Itu dari arah kanan” kata Rio.
“Ayah ..” teriak Ira.
“Sebaiknya kita diam disini, jangan berjalan lagi, tapi kita berteriak saja
memanggil mereka” kata Adi.
Kamipun berteriak memanggil manggil ayah bersahut sahutan.
Tak lama rombongan ayah mendekat ke arah kami dan segera berlari
mendapatkan kami berlima. Aku memeluk ayahku. Hatiku sangat lega. Ira
menangis lagi dan ditenangkan ayahnya.
“Tidak apa nak, kalian pemberani” kata ayah.
Aku tersenyum kecut.
Kami bergegas pulang karena hari sudah semakin sore dan perut terasa
keroncongan.
