Tugas Yang Membingungkan
Ni Nyoman Tri Ayundia Darmayanti
Hari ini matahari bersinar hangat. Para petani sedang beristirahat di dangau masing masing. Sesekali mereka saling berbicara sambil berteriak karena jarak yang berjauhan. Senda gurau terdengar dari Pak Tani dan Bu Tani di dangau mereka seperti Pak Sugeng dan Ibu Ning . Mereka baru saja selesai makan siang. Bu Ning sedang membereskan perabotan tempat makan dan diletakkan di sebuah tas dari anyaman bambu untuk di bawa kembali pulang. Pak Sugeng sedang menikmati kopinya. Seekor anjing di dekat kaki Pak Made tiduran ayam bermalas malasan. Sebentar lagi ia akan mulai bekerja sampai matahari di atas kepala, sedangkan Bu Ning kembali ke rumah untuk menyiapkan makan siang keluarganya.
“Mudah mudahan tahun ini panen kita berhasil ya Bu, aku ingin membelikan handphone buat Sri.” kata Pak Sugeng sambil menyeruput kopinya. Anjing hitam di bawah dangan membuka sedikit matanya ketika mendengar tuannya berbicara. Rupanya dia ikut menyimak.
“Iya mudah mudahan yan pak. Sepertinya anak itu membutuhkan handphone untuk belajarnya.”
“Iya Bu, Jaman sekarang benda itu sangat penting untuk belajar asal kita bisa membatasi untuk menggunakan.”
Mereka masih mengobrol beberapa saat lamanya sebelum akhirnya Bu Ning pamit pulang diikuti anjing kesayangannya sambil sebentar sebentar berlarian mengejar capung yang terbang rendah. Kadang juga berhenti sejenak seolah mengamati sesuatu yang bergerak di sela batang padi yang sedang diairi atau rerumputan di atas pematang sawah.
Sampai di rumah, terlihat Sri, anak bungsu Bu Ning sudah pulang dari sekolah. Dia bersekolah di SMP tak jauh dari rumahnya. Biasanya Sri pulang sore namun kali ini tidak biasanya. Bu Ning pun bertanya “Lo kok sudah pulang Sri, biasanya jam tiga an.”
“Iya Bu, guru-guru ada kegiatan di luar sekolah, jadi kami dipulangkan lebih cepat. Tapi ada tugas yang harus dikerjakan di rumah kok Bu.”
“O ya kalau begitu segera ganti baju, makan dan kerjakan tugasnya ya nak.”
Sri mengangguk . Dalam pikirannya masih bingung dengan tugas yang diberikan gurunya. Tugasnya adalah membuat tulisan tentang bumi yang menyenangkan. Hemm.. seperti apa bumi yang menyenangkan, pikirnya. Apakah buminya menari nari, pasti tidak mungkin. Dia tertawa sendiri. Dia berpikir untuk meminjam handphone kakaknya untuk mencari informasi. Tapi ternyata kakaknya datang malam hari dan Sri sudah keburu tidur. Mau pinjam handphone Bapak masih jadul, tentu tidak bisa.
Keesokan harinya Minggu, Sri bangun sedikit bermalasan. Sri masih enggan beranjak dari tempat tidur . Dia masih memikirkan tugasnya. Terdengar suara ibunya memanggil
“Sri ibu mau ke sawah ngantar makanan untuk Bapak, kamu makan dulu sana.”
Dan ternyata kakaknya sudah pergi entah kemana, Sri menggerutu. Tiba tiba terbersit keinginannya untuk ikut ibunya ke sawah. “Bu tunggu aku ikut!” teriaknya. Sri pun cepat cepat mencuci muka di kamar mandi dan tak lupa menggosok gigi lalu segera bergegas menyusul ibunya yang sudah menunggu di teras depan.
Sepanjang jalan terasa sejuk. Udara pagi menjelang siang ini masih segar. Matahari bersinar lembut. Dilihatnya sawah-sawah menghijau di kiri kanan jalan. Beberapa petani terlihat menyiangi rumput di sela padi yang menghijau. Enak juga jalan pagi-pagi ke sawah. Dia memang jarang ikut ke sawah. Dia mengamati pengairan di sawah sangat baik , semua teraliri air yang cukup. Padi-padi tumbuh dengan subur tidak kekeringan lagi seperti beberapa tahun lalu. Di pinggiran sawah dimanfaatkan untuk menanam pohon pisang.
Sampai di dangau dia tidak melihat ayahnya, yang ada hanya anjing hitam kesayangannya.
“Bapak dimana Bu?” tanya Sri
“Itu sedang menyemprot tanaman padi , sebentar juga kesini.” sahut ibunya sambil menunjuk kearah ayahnya berdiri. O ya itu dia, pikir Sri. Sebentar kemudian ayahnya sudah menyusul mereka ke dangau.
“Tumben kamu mau ikut ke sawah, nak?” sapa ayah
“Bosen yah, Sri mau buat tugas tapi tidak tahu.”
“Lo .. kenapa ?”
“Tugasnya menulis tentang bumi yang menyenangkan yah, bagaimana coba ? Masalahnya kemarin Bu Guru ngasi tugasnya keburu karena ada acara dan kami dipulangkan, jadi Sri ndak sempat nanya.”
“Hem… bumi yang menyenangkan ? Coba kamu lihat di sekelilingmu.” ujar ayahnya
“Maksud ayah ?” tanya Sri bingung
“Lihat saja di sekelilingmu , hari ini kamu apakah merasa senang datang ke sawah ?”
Sri mengamati sekeliling . Matahari pagi menjelang siang tidak terlalu panas. Matahari sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup di bumi ini baik tumbuhan, hewan maupun manusia. Hamparan hijau sejauh mata memandang terlihat menyejukkan mata. Sawah yang luas dengan latar belakang pegunungan yang menjulang dan hijau menambah keindahan alam di kampung itu. Begitupun langit tampak biru cerah menaungi alam yang hijau.
Gemericik air terdengar dari sela sela pematang yang merupakan saluran air kecil untuk mengairi sawah di sekitarnya. Air yang sejuk mengalir dari hulu sebuah sungai nun jauh disana. Angin bertiup sepoi sepoi mengayun pelepah daun pisang yang berjejer atau bergerombol di tepi pematang sawah.
Sri merenung sejenak. Benar . Ini bumi yang menyenangkan. Ayah sudah memberinya ide. Seolah tahu pikiran Sri , ayahnya berkata tulislah pengalamanmu yang indah hari ini di sawah. Tulislah apa yang kamu lihat yang hidup di bumi ini. Dengan itu kamu sudah berbagi tentang bumi yang menyenangkan kepada semua orang. Sri tersenyum lebar
“ Terimakasih ayah….. aku pulang dulu.” kata Sri sambil turun dan berlari pulang. Dia sudah tahu apa yang akan ditulisnya sebagai tugas dari Bu Guru.
